Hal Yang Disukai Suami Dari Istrinya

Apa yang membuat seorang istri menarik, hingga suami makin menyenangi dan mengaguminya? Karena interaksi dengan istri sudah menjadi keseharian dan hal rutin, seringkali seorang suami sulit menjawab pertanyaan itu. From a distance, mungkin sifat dan sikap menarik dan menyenangkan dari istri bisa diurai.

Kenapa saya pilih kata menarik instead of cantik? Cantik fisik itu relatif. Parameter-parameter pembangun kecantikan itu masih debatable. Terlebih lagi cantik fisik itu adalah daya tarik instant. Ia bisa menjadi daya tarik melenakan pada pandangan pertama dan pada interval waktu awal, tapi belum tentu pesona yang sama bisa dirasakan melalui interaksi pada jangka waktu yang panjang.

Menarik itu terbangun dari keutuhan kepribadian. Berbagai dimensi kecerdasan berpadu membangun kemenarikan (attractiveness), mulai dari kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional hingga kecerdasan spiritual dan kecerdasan religius. Maka kemenarikan seorang istri paling tidak tercermin dan menampak pada delapan pasangan karakter kunci di bawah ini:

1. Ramah dan murah senyum


Keramahan dan murah senyum itu menjadi daya tarik universal. Ia menjadi salah satu kunci sukses seseorang, sebab dengannya ia mudah diterima orang lain. Dan ini menjadi faktor penting dalam berbagai kerja sosial dan profesional.

Dan senyum adalah pancaran suasana hati. Murah senyum dan ramah itu bukan tampilan sesaat. Ia adalah cerminan kepribadian. Dengan senyuman istri, seorang suami mendapatkan ketentraman dan kehangatan jiwa. Setiap kali ia mendapatkan senyuman sang istri, terbitlah suasana “kemarilah, di sini aku selalu ada untukmu” menghiasi relung jiwanya.

2. Optimis dan ceria

Masalah itu untuk dipecahkan dan jangan membuat kita berdiam diri. Percayalah, kalau kita bergerak dan berusaha, kita akan menemukan jalan keluar. Kalimat-kalimat barusan itu normatif. Tapi ketika ucapan-ucapan itu keluar dari seorang istri dan ketika hal itu diucapkan dengan penuh rasa optimis dan dibarengi keceriaan, yakinlah seorang suami bahwa ia memperoleh anugerah terindah dalam hidupnya.
Seorang yang optimis itu tak akan berdiam diri dalam himpitan masalah. Ia akan mengurai masalah. Ia akan kerjakan apa yang bisa dikerjakan terlebih dahulu, tanpa menunda-nunda. Dan justru karena sikap melekat seperti ini, ia tak pernah mendapatkan dirinya menunggu himpitan segunung masalah. Setiap ada permasalahan hidup, ia cepat menyelesaikannya. Karena geraknya ini, setiap kali menyelesaikan satu pekerjaan, sekecil apapun, ia mendapatkan kesenangan jiwa. Dan karenanya sikap ceria selalu bisa dipelihara.

3. Penyabar dan teguh hati

Bangunan rumah tangga itu ibarat bahtera yang berlayar mengarungi samudra. Adakalanya cuaca buruk melanda lautan. Angin dan ombak kencang menerpa. Pada saat itu terujilah sifat sabar dan teguh hati.
Seorang suami akan sangat bersyukur dengan kesabaran dan keteguhan hati istrinya ketika menghadapi berbagai kesulitan hidup. Hari-hari ketika persediaan uang bahkan tak mencukupi untuk hidup sehari, ketika mesti bekerja keras karena memang tak ada dana untuk menggaji seorang pembantu, ketika mesti berjalan cukup jauh mengantar anak bersekolah dengan mendorong baby-car adiknya pula. Atau ketika hadir suara-suara,”Bagaimana mungkin kamu bersabar dengan kondisi begini? Sekali-kali berontak donk sama suami ….” Ketika itu kesabaran dan keteguhan seorang istri dalam menjalani episode kehidupan diuji.

Tentu keteguhan hati itu lahir dari saling pengertian dan keyakinan, bahwa suami tak berdiam diri dengan kondisi yang ada. Tapi landasan utama keteguhan ini adalah pada keyakinan, bahwa Allah tak meninggalkan hambaNya. Dia akan menolong saat upaya kita sudah sampai pada batasnya; Saat kita berserah diri di ujung segala harapan dan hanya menggantungkan diri padaNya.

4. Penyayang dan pemaaf

Manusia tak ada yang terbebas dan kekhilafan dan kekeliruan. Begitu juga seorang suami terhadap istrinya. Bahkan di hadapan istrinya, hampir semua ketidaksempurnaan yang dapat ia tutupi di luar rumah, akan terbuka.

Sifat penyayang dan pemaaf amat diperlukan seorang suami, dihadapkan pada segala kelemahan dirinya. Pengertian istri sungguh menjadi sesuatu yang amat dihajatkan. Dengan ini seorang suami terhindar dari keputusasaan dan blaming himself too far, menyalahkan diri sendiri terlalu jauh. Dengan ini seorang suami tetap bisa terjaga harga diri dan sikap optimisnya.

Penyayang dan pemaaf juga nampak pada keseharian istri dalam mendidik anak-anak. Suami akan senang melihat anak-anak tumbuh dalam suasana kasih sayang. Pemaafan atas kesalahan anak-anak bukan untuk mentolerir kesalahan itu, tapi untuk memberikan kesempatan kepada mereka belajar dari kesalahannya.
Penyayang juga menjadi karakter yang muncul saat istri berinterkasi dengan orang tua dan kerabat suaminya. Pernikahan itu menyatukan dua bani. Dan ketika suami mendapatkan istrinya menerima dan diterima dengan baik dan bahkan menjadi kesayangan orang tua dan karib kerabatnya, sungguh ia merasakan rasa senang tiada tara.

5. Empatif dan ringan tangan

Bekerja sama dan saling menolong dalam kehidupan rumah tangga menjadi tuntutan mendasar. Adapun sifat empatif dan ringan tangan dalam menolong di sini lebih ditekankan pada karakter seorang istri bagi masyarakat di sekelilingnya.

Sebuah rumah tangga menjadi bagian dari satu masyarakat. Keharmonisan satu keluarga dalam menempatkan diri di tengah masyarakat menjadi satu kepuasan batin dan kebahagiaan tersendiri. Ketika seorang istri menunjukkan sikap empatif dan banyak memberikan pertolongan kepada orang-orang di sekeliling rumah, seorang suami akan mendapatkan pesona sosial pada istrinya.

Selain itu, seorang istri yang memberikan perhatian terhadap masyarakat sekelilingnya justru akan semakin bersikap dewasa dalam mengatasi permasalahan rumah tangganya. Ini menjadikan suasana komunikasi dengan suaminya di rumah lebih seimbang dan menentramkan.

6. Aktif dan produktif

Pesona sosial pada seorang istri lebih dirasakan suaminya, ketika ia memberikan kontribusi lebih sistematis kepada masyarakatnya. Tidak menjadi masalah pada bidang apa kontribusi ini dicurahkan, pada pendidikan, kesehatan, perekonomian, kesejahteraan, atau beberapa sektor industri. Yang pasti keaktifan dan produktifitas seorang istri bagi masyarakatnya menjadi daya tarik tersendiri bagi suami.
Produktifitas ini tentu saja tidak mesti identik pada jauh meninggalkan urusan rumah tangga. Saya sendiri melihat, basis dari segala aktifitas sosial seorang istri itu adalah bagaimana ia menjadi aktifis yang memiliki visi terbangunnya keluarga-keluarga yang sehat, cerdas dan sejahtera.

Untuk mewujudkan visi di atas dibutuhkan dukungan segenap instrument sosial-kemasyarakatan dan kenegaraan, mulai dari peraturan perundangan yang digodok di lembaga legislatif, ilmu pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan lembaga pendidikan dan riset, konsep dan kebijakan yang dibuat eksekutif, aktifitas pemberdayaan masyarakat yang dipelopori LSM-LSM (NGOs) dan gerakan sosial lainnya hingga wujud materi peradaban seperti sekolah-sekolah, klinik hingga rumah sakit, industri farmasi penopang kesehatan, industri pemasok makanan bergizi, industri telekomunikasi yang memfasilitasi dan menyajikan informasi yang baik dan mencerdaskan, dan lain-lain.

Karenanya terbuka seribu satu medan bagi para istri untuk berkiprah, mulai dari ruang lingkup rukun tangga (RT), rukun warga (RW) hingga lingkup negara dan bahkan dunia.


7. Cerdas dan kreatif

Kepribadian seorang manusia itu terus berkembang dan tumbuh menuju kematangan tatkala proses belajar terus menyertainya. Dari waktu ke waktu istri pembelajar akan selalu menghadirkan kemenarikan yang baru. Satu hari tiba-tiba dia memasak kue bolu amat lezat, yang belum pernah disajikan kepada keluarganya. Di kesempatan lain dia mengisahkan baru lulus kursus Qiraati -satu metoda belajar membaca al-Quran-, karena memang dibutuhkan untuk menyertai perkembangan salah satu sisi pendidikan anak-anak. Atau ketika dia mengikuti kegiatan senam kebugaran dengan tekun, yang memang membuat tubuhnya bugar dan menambah vitalitas hubungan dengan suaminya.

Kecerdasan itu bergabung dengan kreatifitas dan berjalan seiring. Kreatifitas dalam mengelola rumah tangga menjadi pesona tiada batas bagi pasangan suami-istri. Dengan daya kreatif ini, segala masalah bisa dihadapi secara cerdas dan tepat.

8. Tekun dan ikhlas beribadah

Puncak dan sekaligus landasan bagi segala daya tarik seorang istri adalah pada ketekunannya menjalankan ibadah dan mengikhlaskan segala cinta, aktifitas dan kerja-kerjanya semata untuk mengharapkan keridhoan Ilahi. Pada karakter ini seorang istri adalah individu yang independent dari siapapun, termasuk dari suaminya. Ia akan menggapai kemuliaan dirinya di hadapan Allah Penguasa Alam Semesta dan di hadapan segenap makhlukNya, termasuk di hadapan suaminya.

***
Khususnya buat para suami, saya rasa cukup relevan menghantarkan bait-bait di bawah dalam konteks kasih sayang suami-istri. Tentu cinta yang kita bangun adalah karenaNya semata …
To really love a woman,
To understand her,
You’ve got to know her deep inside …
Hear every thought,
See every dream,
And give her wings when she wants to fly.
Then when you find yourself lying helpless in her arms …
You know you really love a woman

Have You Ever Really Loved a Woman by Bryan Adams
http://adijm.multiply.com/journal/item/147

http://www.salimah.or.id/hal-yang-disukai-suami-dari-istrinya/

Hal Yang Disukai Istri Dari Suaminya


Terkadang kita ingin tahu juga, apa yang membuat istri  senang dalam kehidupan berumah-tangga. Berikut ini adalah satu versi rangkaian sikap dan sifat yang disukai seorang istri dari suaminya:
1. Penuh Pengertian
Seorang istri senang diperhatikan dan didengarkan. Ia senang suaminya memahami dan mengerti dirinya. Dalam suka dan dukanya. Dalam ceria dan sedihnya. Ia senang suami mengetahui perasaannya. Ia misalnya senang diberitahu pakaiannya yang mana yang paling disukai suaminya. Atau masakannya yang mana yang paling lezat bagi suaminya. Karenanya obrolan-obrolan ringan dan lembut amat dinanti-nanti seorang istri. Setiap kata yang keluar dari lidah dan bibirnya adalah pesan cinta yang ingin ia sampaikan. Dan ia ingin tahu bagaimana suaminya menanggapi pesan cintanya itu.Tangisan seorang istri itu memiliki sekian banyak makna, bisa karena sedih, bisa karena marah, bisa karena terharu dan bahagia. Ia senang jika suaminya bersabar untuk mengenal setiap jenis air mata yang metetes dari matanya.Pengertian ini menjadi inti dan landasan segala sikap menyenangkan yang mungkin dilakukan seorang suami terhadap istrinya.
2. Setia
Kesetiaan adalah syarat utama cinta sejati. Seorang istri ingin cinta suami itu hanya untuknya. Karenanya kecemburuan adalah bagian dari cinta. Sapaan sayang di tengah kesibukan, walaupun hanya satu dua menit kata-kata yang disampaikan lewat telepon, walaupun hanya satu dua kalimat SMS, akan menjadi pengokoh kepercayaan. Hadiah yang diberikan: martabak kesukaannya, seikat bunga, atau sebuah jam tangan yang manis akan menguatkan cinta. Dan mengingat hari ulang tahun serta hari pernikahan akan menjadi bukti kesetiaan suami yang disukai seorang istri.Tapi seorang istri yang baik akan mengatakan, “Jangan karena takut kepadaku, kakanda bersikap setia. Karena Allah Maha Melihat. Itu yang mesti menjadi landasan kesetiaan.”
3. Sabar dan Pemaaf
Seorang istri akan amat bersyukur jika suaminya mau menerima dirinya apa adanya. Suaminya mampu memaafkan dan bersabar atas kekurangan yang ada pada dirinya. Ia butuh waktu untuk membina dirinya. Ia bahkan butuh waktu untuk memahami dirinya sendiri, ketika satu ketika ia tidak menjadi dirinya sendiri.Seorang istri perlu mendapatkan nasihat, akan tetapi itu dilakukan dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.
Ini seperti pesan Ilahi: “Kemudian keadaan orang beriman itu adalah saling menasihati dalam kesabaran dan dalam kasih sayang.” (QS. al-Balad); “Dan jika kalian memaafkan, tidak memarahi, dan mengampuni mereka, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (QS. at-Taghabun)
4. Teguh Hati dan Bersemangat
Seorang istri senang melihat suaminya senantiasa berteguh hati dan bersemangat dalam menyelesaikan berbagai tugas dan amanah. Ia senang suaminya dapat senantiasa prima menunaikan tugas-tugas di luar rumah dan sekaligus membantu menyelesaikan permasalahan di rumah. Karenanya seorang istri senang melihat suaminya akrab bercengkrama, bermain dengan anak-anaknya. Dan saat suami sesekali memasak untuk keluarga, ada sentuhan hangat menyentuh relung jiwa seorang istri.Bagaimana jika suaminya berada dalam kondisi bete atau kehilangan semangat? Seorang istri akan menerima keadaan ini asalkan ia melihat suaminya berusaha keras untuk melepaskan diri dari keadaan lemah ini. Ia bahkan akan memberikan bantuan dan doa terbaik bagi suaminya.
5. Romantis
Seorang istri senang jika suaminya mampu memperlihatkan dan mengekspresikan cinta dan kasih sayang. Ia senang mendapati suaminya membangun suasana kondusif kasih sayang di rumah. Ia senang jika suaminya romantis.Diantara ungkapan cinta suami-istri adalah dalam hubungan intim. Seorang istri senang jika suaminya memberikan kesenangan dan kepuasan pada salah satu kebutuhan cinta ini. Ia akan terbuka menyampaikan apa yang ia sukai, ketika suaminya mampu membuka percakapan dalam masalah ini secara tepat dan penuh kelembutan (tenderly).
6. Rapi dan Wangi
Seorang istri suka suaminya rapi. Rapi menata rambut dan rapi berpakaian, bahkan dalam suasana santai. Kerapian yang disukai adalah kerapian yang alami dan melekat dalam kehidupan suami.Sikap suami yang kooperatif dalam menjaga kerapian rumah juga disukai seorang istri. Karenanya ketika seorang suami berinisiatif menyapu ruang tengah, membersihkan kompor di dapur, atau membersihkan kamar tidur dengan membongkar tempat tidur secara rutin … pada semuanya ada apresiasi dari seorang istri.Rapi, bersih dan wangi pada seorang suami membuat istrinya senang. Seorang suami bisa meminta istrinya memilihkan minyak wangi baginya. Ia akan terbantu menyempurnakan penampilan bagi istrinya.
7. Ceria dan Ramah
Senyum ceria dan keramahan amat dihajatkan seorang istri. Senyum dan keramahan itu laksana angin sejuk di tengah berbagai kelelahan dirinya. Berbagai kesibukan membuat jiwanya lelah. Interaksi dengan anak-anak di rumah itu bukan pekerjaan ringan. Segenap potensi kejiwaan dan pikiran mesti ia curahkan. Kelelahan fisik pun tidak ringan. Perhatikanlah, ia mesti terus memperhatikan anaknya yang terus bergerak kesana kemari, bereksplorasi ketika mulai bisa merangkak. Dan saat si anak lelah tertidur, ia mesti bersiap-siap memasak dan merapikan rumah bagi suaminya yang sebentar lagi pulang …Senyum dan sapaan sayang suami akan menjadi hiburan jiwa bagi sang istri. Sikap humoris juga amat membantu seorang istri untuk selalu menjaga suasana riang hatinya. Ini semua akan membantunya untuk terus bersabar dan ikhlas dalam menunaikan tugas-tugasnya.
8. Menjadi Pemimpin yang Melindungi
Istri membutuhkan perlindungan yang membuatnya senantiasa merasa tentram. Karenanya ia menyukai sifat kepemimpinan pada suaminya. Kepemimpinan yang ia harapkan adalah yang senantiasa menentramkan jiwanya, mengokohkan ruhaninya, memberikan pencerahan demi pencerahan pada akalnya dan membantu menjaga kebugaran dan kesehatan tubuhnya.
Kepemimpinan yang ia sukai adalah yang memadukan ketegasan dan kelembutan. Yang menebarkan cinta, bukan membuat takut. Yang mengedepankan kemauan baik, bukan senantiasa menggunakan otoritas (misalnya dengan selalu menggunakan kalimat “suami kan pemimpin rumah tangga, jadi mesti taat donk”). Yang betul-betul menjadi pemimpin, bukan menjadi boss.
Sumber : adijm.multiply.com

Kisah Penjual Gorengan Naik haji

Ini kisah seorang penjual gorengan. Di daerah Cipete Jakarta Selatan, di sebuah sekolah dasar disana, seorang pria penjual gorengan bernama Udin (bukan nama asli) berjualan. Lnceng turun main, kira-kira akan berbunyi sepuluh menit lagi. Ia tengah memotong beberapa singkong untuk digoreng. Singkong seperti kita tahu, berbentuk tabung dan berkerucut pada ujungnya. Biasanya sebuah singkong akan dipotong lima bagian. Empat bagian digoreng untuk dijual, sementara bagian ujung atau pentilnya disisihkan untuk dibuang. Hari itu, Udin menggoreng kira-kira lima buah singkong, dan pentil singkong yang tersisa pun berjumlah lima.
 
Lonceng istirahat berbunyi,para siswa pun berhamburan ke luar kelas untuk jajan dan istirahat. Seorang anak kurus sambil mengigit jari berdiri di ujung gerobak Udin. Anakini tidak mmbeli gorengan seperti siswa lainnya, juga tidak berbicara sepatahpun. Naluri Udin berkata bahwa anak ini tidak punya uang untuk jajan. Hati kecil menyuruhnya agar lima pentil singkong yang ada diberikan saja kepada anak itu. Maka diambillah beberapa pentil itu. Ia masukkan ke dalam adonan tepung, kemudian digorenglah. Setelah matang, Udin menaruhnya di atas kertas lalu disodorkannya kepada anak itu. Si anak senang bukan main. Senyumnya mengembang. Udin turut bahagia melihatnya.Belakangan, Udin tahu bahwa anak tersebut adalah seorang yatim yang baru saja kehilangan Bapak.
 
Kejadian pagi itu terus berulang. Udin memberikan beberapa pentil singkongnya kepada anak yatim itu. Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun hingga anakitu lulus dari Sekolah Dasar. Udin tidak merasa berat, sebab apa yang ia berikan kepada anak yatim itu tiada lain adalah barang yang tiada berharga bagi siapapun. Dalam pengalamannya berjualan, tidak ada seorang pun yang mencari pentil singkong untuk dibeli. Bahkan bila dijual sekalipun dalam jumlah banyak, pastilah tidak akan laku. Udin tidak keberatan memberikan pentil singkongnya kepada anak itu.Bahkan untuk setiap hari.
 
Lebih dari 30 tahun berselang setelah anak yatim itu lulus. Saat itu, Udin masih mengerjakan rutinitasnya setiap hari yaitu berjualan gorengan di sekolah dasar yang sama. Maka berhentilah sebuah mobil mewah nan mengkilap tepat di depan gerobak Udin. Seorang pemuda tampan turun darimobil.Ia mengenakan setelan dan dasi yang bermerk. Rambutnya di sisir rapi dan mengkilat ditimpa sinar matahari.
 
Melihat calon pembeli denga mobil bagus, Udin sigap membuka pembicaraan, “Mau beli gorengan Den?!” Pemuda itu tersenyum dan berkata, “Masa Bapak lupa sama saya?” Pertanyaan itu membuat Udin berpikir singkat, namun ia tidak menemukan jawabannya. Udin lalu bertanya polos, “Memangnya Aden ini siapa ya?” Masih tersenyum, pemuda itu mengatakan, “Saya ini adalah anak pentil singkong, Kang!” Mendengar itu, Udin berucaptasbih. Rasa gembira terbit dihatinya melihat kesuksesan anak ini. Anak pentil singkong yang dulu kerap berdiri di pinggir gerobaknya. “Masya Allah…. sudah sukses sekarang ya Den?” Udin bertanya sekali lagi. “Alhamdulillah Pak!” jawab si pemuda itu.
 
Udin lalu menggamit lengan si pemuda, diajaknya masuk ke balik gerobaknya. Udin menyorongkan sebuah kursi kecil untuk duduk. Maka duduklah pemuda itu, sementara Udin meneruskan pekerjaannya menggoreng singkong, tempe dan lain-lain. Sambil Udin bekerja, pembicaraan mengenai kenangan lama terulang kembali. Keduanya merajut rasa syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan anugerah tiada terkira. Pembicaraan tersebut terus berlanjut hingga berujung pada sebuah kalimat yang diucapkan sang pemuda.
 
“Bapak… saya ke sini mau berterimah kasih!” kata si pemuda. “Atas apa, Den?!” jawab Udin. “Berterima kasih atas kebaikan Bapak kepada saya. Dulu kalau tidak dikasih pentil singkong sama Bapak, saya gak bakal bisa belajar dengan tenang. Kalau belajar gak tenang, saya gak bakal pintar. Kalau gak pintar, saya gak bakal bisa lulus sekolah dan sukses seperti sekarang… saya ke sini mau berterima kasih ke Bapak!” kalimat yang baru diucapkan oleh pemuda itu begitu tersusun dan membanggakan hati Udin. Namun Udin masih berkelit sambil berujar, “Den…sudah gak usah dipikirkan. Apa yang saya kasih ke Aden berupa pentil singkong itu kan gak berharga! Ngapain pakai terima kasih segala. Lagian, kalo saya jual gak bakal ada yang mau…!” Udin mencoba merendah dan menolak pamrih.
 
Pemuda masih mengejar dengan satu pertanyaan lagi, dan ini membuat Udin menjadi bergidik.”Bapak…, saya dan istri berniat haji tahun ini. Saya ingin Pak Udin dan istri mau menemani kami. Mau kan Pak?” Gemuruh rasa terjadi di dada Udin. Tidak pernah terbayangkan baginya akan ada seorang hamba Allah yang mengajaknya untuk menunaikan rukun Islam kelima. Udin pun mengiyakan, dan pemuda itu pun pergi meninggalkan Udin.
 
Udin dan istrinya berangkat haji. Seluruh biaya dan uang jajan keduanya ditanggung oleh si pemuda. Barangkali kalau dihitung lebih dari 60 juta yang dibayarkan olehnya. Udin dan istri lalu berangkat ke Baitullah, menunaikan semua ritual dan berkewajiban dalamibadah haji. Hingga ia dan istri kembali ke tanah air lagi dengan selamat. Sesampainya di tanah air, banyak kerabat, saudara dan tetangga datang bersilaturrahmi. Udin membagikan oleh-oleh berupaair zamzam, kurma dan banyak lagi. Banyak orang senang menerima oleh-oleh tersebut. Merekapun banyak menanyakan pengalaman Udin dan istri selama berhaji.
 
sumber : http://www.arminarekautama.com/artikel-terkait/53-kisah-penjual-gorengan-naik-haji.html

Sukses berbisnis telur bebek, Slamet naik haji

Nurul Arifin - Okezone
Rabu,  19 September 2012  −  10:45 WIB
Ilustrasi 
Ilustrasi
 
Sindonews.com - Nasib tidak akan berubah kecuali orang tersebut yang merubahnya. Ungkapan itu tampaknya diilhami oleh Slamet Daroini warga Dusun Subontoro Desa Kebon Duren Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar. Pria yang sebelumnya berprofesi sebagai kuli angkut Tebu kini menuai sukses setelah beralih menjadi pengusaha telur bebek.

Bahkan, telur bebek hasil produksi Slamet kini telah merambah ke luar pulau Jawa. Tentunya, dari sinilah sedikit demi sedikit kehidupan ekonomi Slamet berubah. Berkat usahanya itu, pria 53 tahun ini telah berangkat haji dan memberangkat kedua orang tuanya ke tanah suci.

"Alhamdulilah, saya sudah memberangkatkan orang tua saya ke Makkah dan Madinah. Kali ini mertua saya sudah saya daftarkan untuk berangkat haji," tutur Slamet ketika ditemui dikediamannya, belum lama ini.

Slamet menceritakan, awal bisnisnya dibangun sejak tahun 1997 lalu. Saat ini, memang ekonomi keluarganya sedang sulit. Terlebih, lagi pada waktu itu kondisi ekonomi Indonesia juga tidak stabil. Pilihan berternak Bebek inipun sebenarnya hanya sampingan saja. Saat itu, ia memulai dengan 178 ekor Bebek dengan dibangun kandang tepat di belakang rumahnya.

Alasan memilih beternak Bebek, karena dari segi kandangnya bisa dikategorikan paling murah dan tidak terlalu sulit. Selain itu, karakter unggas jenis bebek ini tidak mudah terserang penyakit. Slamet membudidayakan bebek peking sebagai pejantan dan bebek lokal sebagai petelur.

Pada waktu itu, lanjutnya, harga Bebek dan telur masih murah. Rupanya, tahun 1998 karena pengaruh krisis, harga telur naik. Dari yang semula Rp250 per butir menjadi Rp600 per butir. Beruntung kenaikan harga tersebut diimbangi dengan peternakkanya semakin produktif. Bahkan, melihat peluang bisnis yang terbuka lebar itu, Slamet pun mencoba peruntungan menjadi pengepul telur bebek dari beberapa peternak yang ada di kampung halamannya itu.

Selain itu, Slamet juga mulai berani mengambil pinjaman untuk memperbesar kapasitas kandang bebek serta mendatangkan pakan. "Untuk pertama kali saya pinjam uang sebesar Rp15 Juta untuk biaya kandang dan pakan," tuturnya.

Slamet pun harus berkerja keras untuk menutup pinjaman tersebut. Ternyata, seiring waktu berjalan, pinjaman itupun tak menjadi beban dan malah membawa keuntungan. Pasalnya, bisnis telur bebeknya ini bisa dibilang lancar. Kini, Slamet telah memelihara 3000 ekor bebek.

Sementara untuk memenuhi kebutuhan pakan bebek yang terdiri dari campuran Katul, Kebi, Kremis dan Karak (Nasi Aking), Slamet mendapat bantuan mesin mixer dari pemerintah setempat. Mesin Mixer inipun sedianya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pakan bagi para peternak yang tergbung dalam Kelompok ternak 'Nova Bersaudara'.

"Pakan-pakan bebek ini banyak didatangkan dari Kabupaten Pati, Brebes dan Mojosari. Per hari untuk biaya pakan sebesar Rp50 ribu," terangnya.

Jumlah Rp50 ribu per hari adalah konsumsi pakan untuk 100 ekor bebek. Total sehari untuk pakan untuk 3000 ekor bebek sebesar Rp1,5 Juta per hari. Komposisi pakan terdiri dari Katul, Kebi masing-masing 400 kilo gram, Kremis dan Karak masing-masing 200 kilo gram. Untuk membantunya, Slamet mempekerjakan 12 orang karyawan dengan upah antara Rp700 ribu hingga Rp900 ribu per bulan.

Slamet mengatakan, dalam sehari bebeknya mampu memproduksi telur hingga 1800 butir. Dari jumlah tersebut untuk memenuhi pesanan, Slamet juga mengumpulan telur dari peternak lainnya. Dalam seminggu UD Nova Sejahtera mampu mengirimkan telur ke Jakarta dan Banjarmasin sebanyak empat kali pengiriman.

"Satu minggu empat kali pengiririman sebanyak empat truk. Satu truk mampu mengangkut 90.720 butir telur," rincinya.

Di Desa Kebon Duren ini terdapat 117 peternak. Sedangkan Slamet membeli telur dari peternak seharga Rp1.050 per butir. Berkat ketekunannya itu, usaha yang ditekuninya ini beromzet puluhan juta rupiah. "Alhamdulilah saat ini UD Nova Sejahtera memiliki omzet Rp50Juta per bulan," ujarnya.(mai)

Sumber : http://ekbis.sindonews.com/read/2012/09/19/36/673388/sukses-berbisnis-telur-bebek-slamet-naik-haji

1500 dari 2000 Santri di Gaza, Hafal 30 Juz Al-Quran


Islamedia - USTADZ Sukeri Abdillah mengadakan kunjungan ke Gaza. Kunjungan ini dilakukan beliau, mulai tanggal 23 Desember 2012 hingga 3 Januari 2013. Banyak tempat yang dikunjungi beliau, semoga cerita singkat beliau ini menggugah kita untuk lebih bersemangat. Mengapa lebih bersemangat? Karena kaum muslimin Gaza berada dalam kondisi perang, namun mereka dapat banyak melakukan hal-hal yang luar biasa.

Kunjungan pertama Ustadz Sukeri adalah Bayt Al Khair di Gaza City. Lembaga pimpinan Ir.  Jum'ah ini bergerak dalam pembinaan recovery korban penyerangan Israel. Seperti menangani pengungsi, seperti kebutuhan akan tempat tinggal, sembako, peralatan dapur.
Lembaga ini juga menyantuni para janda dan anak yatim dari para syuhada. Bukan itu saja, lembaga ini juga mengembangkan usaha-usaha kecil para korban penyerangan. Seperti usaha yang bergerak dalam bidang peternakan kelinci, domba, ayam serta pabrik pembuatan roti.

Disamping itu, Bayt AlKhair juga bekerjasama dengan Medical Centre di Gaza City untuk penanganan kesehatan para korban penyerangan.

Ustadz Sukeri juga mengunjungi Darul Qur'an wa Sunnah yang letaknya di Bayt Lahiya. Di sana, dia bertemu syaikh Abdurrahman. Lembaga ini mencetak para hufadz Al Qur'an (penghafal Al-Quran). Bangunannya berada 1,5 km dari wilayah perbatasan dengan Israel, sehingga kerap kali menjadi benteng pertahanan jika terjadi penyerangan dari Israel.

Ustadz Sukeri juga berkunjung ke Jami'at Al Islami pimpinan Ustadz Abdur Rahim. Lembaga ini menyantuni 2000 santri yatim dan dlu'afa. Mulai tingkat SD, SMP, Perguruan tinggi. Lembaga ini juga mencetak para hufadz Al Qur'an (penghafal Al-Quran). Dan 1500 dari 2000 santrinya, hafal 30 juz Al Qur'an

Ustadz Sukeri juga bertemu dengan Perdana Mentri Palestina, Ismail Haniya. Pemimpin negara yang 83% penduduknya hidup di bawah garis kemiskiskinan akibat perang berkepanjangan. Pemimpin sederhana yang sangat dicintai rakyatnya ini, beberapa kali keluar masuk penjara Israel. Dia menitip salam hangat dan persaudaraan kepada pemimpin dan seluruh rakyat Indonesia.

Ada sebuah pusat pendidikan ketrampilan yang dikelola oleh lembaga kemanusiaan Turki, juga dikunjungi ustadz Sukeri

Di Gaza terdapat rumah sakit khusus yang untuk menangani penyakit kanker, namanya Cancer Hospital. Uniknya dua desa, yaitu Salthin dan Bayt Lahiya, 30% penduduknya menderita kanker, sebab Israel mengarahkan cerobong asap pembuangan pabrik nuklirnya ke arah dua desa tersebut. Rumah sakit ini juga dikunjungi ustadz Sukeri

Ustadz Sukeri juga mengunjungi para pengungsi yang merupakan korban pengusiran Israel. Mereka ini pada mulanya merupakan penduduk yang hidup makmur di wilayah perbatasan. Tapi saat Isreal memasuki wilayah tinggal mereka, mereka diusir dari kampung halaman dan hidup mengontrak. Kondisi mereka sangat memprihatinkan. Bantuan UNROWAH hanya diterima sebesar USD 10 per 4 bln.
“Alhamdulillah, semua tempat-tempat tersebut kami kunjungi dan juga santuni secara langsung,” jelas ustadz Sukeri
Semoga kisah ustadz Sukeri ini membuat kita semakin peka terhadap kondisi kaum muslimin dimana pun mereka berada. Juga tak lupa, semoga kisah ustadz Sukeri semakin membuat kita bersyukur pada Allah swt.[
berita99]

sumber : http://www.islamedia.web.id/2013/01/1500-dari-2000-santri-di-gaza-hafal-30.html

Inspiratif! Kisah Penjual Gorengan yang Sukses Sekolahkan Anak Hingga Sarjana


Inspiratif! Kisah Penjual Gorengan yang Sukses Sekolahkan Anak Hingga Sarjana
Tukang penjual makanan gorengan, ilustrasi
 
REPUBLIKA.CO.ID, PALANGKARAYA--Kerja keras pastinya membuahkan hasil yang membanggakan. Tidak percaya? Tengok kisah inspiratif Sunarto (54 tahun) pedagang pisang goreng di Palangka Raya, ,Kalimantan Tengah, yang berhasil menyekolahkan anaknya hingga sarjana.

Ketika ditemui saat melayani konsumennya di Palangka Raya, Rabu, Sunarto  mengatakan, profesi yang dirintis sejak tahun 1991 itu telah membuahkan hasil, yakni menyekolahkan dua anak hingga sarjana program strata satu (S-1).

"Saya menggeluti pekerjaan ini sejak tahun 1991. Alhamdulillah kedua anak saya dapat menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi, dan yang satu lagi masih kuliah," katanya kalem. Dibantu istri dan anaknya, Sunarto terlihat sibuk melayani para pelanggannya di lokasi kawasan Universitas Palangka Raya (Unpar) Kota Palangka Raya yang juga sering disebut "Kota Cantik" itu.

Sunarto menceritakan awalnya menjual pisang goreng dekat area mainan anak-anak di jalan Yossudarso, namun petugas keamanan minta pindah ke seberang agar tidak menggangu pemandangan kota. Pisang kepok diolah menjadi pisang goreng. Sehari bisa habis 40 Kg pisang. Sunarto juga menjual aneka gorengan lainnya seperti ubi, tempe, serta bakwan.

Lokasi warungnya sangat strategis, tepatnya di pinggiran jalan kota Palangka Raya jalan Yossudarso. Banyak konsumen yang datang membeli gorengan Sunarto, terutama mahasiswa. Karena lokasinya dekat dengan Kampus Upar, banyak mahasiswa yang mampir sejenak sambil istirahat menikmati gorengan buatan Sunarto, di samping masyarakat konsumen lainnya.

Pembeli bisa mengambil sendiri gorengannya tanpa harus antre, sementara kepada konsumen dilayani sangat cepat dan pembeli tidak merasa lama menunggu. "saya suka gorengan di sini karena renyah dan sajikan selalu dalam keadaan panas. Selain itu kita juga dapat menikmati suasana jalan raya di sore hari sambil menghilangkan penat," kata seorang konsumen Puspa (21).

Redaktur: Stevy Maradona
Sumber: Antara
 
http://www.republika.co.id/berita/regional/nusantara/11/11/30/lvhbbd-inspiratif-kisah-penjual-gorengan-yang-sukses-sekolahkan-anak-hingga-sarjana

Tukang Bubur Naik Haji

Ini kisah nyata Sulam, seorang penjual bubur, yang ingin memberangkatkan emaknya pergi haji. Orang lain, termasuk istrinya, mengingatkan Sulam, haji itu bagi yang mampu. Sementara penghasilan tukang bubur itu paling buat makan sehari-hari. Jadi, dari mana uang untuk berangkat haji. ”Insya Allah, Mak. Sulam mohon doa Emak. Kalau doa Emak makbul, Emak pasti naik haji,” janji Sulam.

Didorong keinginan yang kuat untuk memberangkatkan haji Emaknya, Sulam bekerja keras. Tidak lupa, ia menyisihkan sebagian penghasilan di bank. Melihat keinginannya pergi haji, seorang temannya menempel nama Bubur Ayam H. Sulam di gerobaknya. Sulam pun bersedekah, termasuk memberi makan bubur kepada anak-anak yang tinggal di rumah yatim. Kepada pengurus yayasan rumah yatim, Sulam dan keluarganya minta didoakan pergi haji.

Seperti biasa, Sulam menyetor uang ke bank. Ketika sampai di bank, petugas memberitahukan bahwa Sulam menjadi pemenang sedan mewah. Karena Sulam bengong, si petugas mengatakan sedannya bisa dijual dan dapat digunakan untuk pergi haji. ”Berapa orang?” tanya Sulam. ”Satu RT”.

Pulang ke rumah, Emak dan istri Sulam bingung dan khawatir karena Sulam seperti orang linglung. ”Maafin Emak kalau keinginan Emak membuat Sulam jadi tidak waras.” Ketika sadar, Sulam mengatakan ia bersama emak, istri, teman, dan pengurus rumah yatim diajak pergi haji. Kali ini, gantian si Emak yang pingsan.

Kalau kita punya masalah, kalau kita punya keinginan, maka tidak ada satu pun yang bisa menolong kita, kecuali Allah. Termasuk keinginan Emak si tukang bubur dan keinginan tukang bubur. Tidak ada yang bisa menolak, kecuali Allah. Dan apa yang terjadi kalau Allah sudah berkenan menolong seseorang? Allah akan mengatur dari langit, sehingga sesuatu yang menurut orang tidak mungkin terjadi, malah terjadi.

Tentu si tukang bubur dan ibunya mendapat keberkahan dari Allah. Sebenarnya bukan tanpa sebab, tapi ada amal-amal yang mereka lakukan, yang kemudian membuat Allah mengeluarkan putusan terbaik buat mereka. Si Ibu punya niat yang sangat kuat, rindu untuk berkunjung ke Baitullah, mencium Hajar Aswad, dan menyempurnakan rukun Islam. Kemudian si anak mahabah kepada orang tua, ingin menyenangkan orang tuanya, lalu dia berusaha dan menabung sebisa dia.

Si tukang bubur percaya seseorang yang berniat baik, Allah akan menyempurnakannya. Kedua, dia berniat menabung untuk ibunya yang ber¬niat haji dan Allah kemudian menyempurnakannya. Ketiga, ia bersedekah karena sedekah bisa menghantarkan seseorang mencapai keinginannya. Allah yang mengatur segalanya dari langit. Kalau Allah berkata ”kun (jadi), fayakun” (maka terjadilah).


Inspirasi kisah diceritakan oleh KH Yusuf Mansur, Pengasuh Pesantren Tahfidz Daarul Qur'an


Artikel ini dimuat di buku “Spirit Sukses Haji Mabrur” karya Agus Priyanto