Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Kisah dokter muda, sehari tangani ratusan korban letusan Kelud



Kisah dokter muda, sehari tangani ratusan korban letusan Kelud
dokter bertha. ©facebook.com/bertha cahyapuri
Merdeka.com - Siapa yang tak tergerak hatinya melihat ribuan korban letusan Gunung Kelud menderita? Berada di pengungsian yang minim fasilitas, apalagi rumah tempat tinggal rusak parah akibat terjangan debu vulkanik Gunung Kelud, adalah sekelumit kisah penderitaan para korban bencana gunung yang terletak di Kabupaten Kediri, Jawa Timur tersebut.

Terdorong oleh semangat membantu sesama, apalagi mendapatkan tugas dari kantor tempat bekerja, menjadikan dokter Bertha Cahyapuri, dokter muda asal Surabaya ini datang ke lereng Kelud untuk membantu warga yang terkena dampak letusan Kelud. Meski rasa takut menghampiri, namun demi kemanusiaan dan profesi, akhirnya rasa takut itu dikesampingkan.

"Pasti ada takutnya, tapi Bismillah saja," tutur dokter Bertha kepada merdeka.com, Senin (17/2) malam.

Bertha menceritakan, sehari dia bisa sampai menangani pasien lebih dari 100 orang. Bahkan hari sebelumnya ada sekitar 160-an pasien yang ditangani. Semua adalah warga lereng Gunung Kelud yang menderita berbagai penyakit.

"Sehari kuranglebih 100 pasien, kemarin 160 pasien. Total sampai saat ini 522 pasien," ungkap Bertha yang mengaku lembaga tempat dia bekerja sudah berada di lereng Kelud sejak Sabtu (15/2), atau sehari setelah Gunung Kelud erupsi.

Para pengungsi letusan Gunung Kelud menurut alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya itu rata-rata menderita penyakit flu, pilek, dan sesak nafas akibat menghirup abu vulkanik Gunung Kelud.

"Banyak juga yang naik tensinya karena mikir rumahnya pada ambles," imbuh wanita berjilbab tersebut.

Dia menambahkan, menangani ratusan pasien saban hari hanya ditangani satu dokter saja, dibantu dua perawat, satu apoteker dan seorang driver. "Tiap hari timnya ganti," kata wanita yang kini bekerja di Rumah Sehat Baznas-PGN Al Chusnaini, Surabaya ini menambahkan.

Bagi Bertha, menolong pasien yang sedang kena musibah bencana alam, selain memang diutus oleh kantornya, juga bisa jadi pengalaman hidup. Tiada kebahagiaan yang hakiki kecuali bisa meringankan beban sesama.

Bagi siapa saja yang hendak berobat gratis, silakan datang ke Balai Desa Keling, Kediri. Dokter Bertha dan tim siap melayani pasien secara cuma-cuma.

Sumber : http://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-dokter-muda-sehari-tangani-ratusan-korban-letusan-kelud.html

Komposer India Ini Masuk Islam

Mualaf (ilustrasi).
Mualaf (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI -- Putra direktur musik legendaris India Illayaraaja, Yuvan Shankar Raja, memutuskan untuk masuk Islam. Ia mengumumkan hal tersebut melalui laman Twitter miliknya.
"Ya, saya telah masuk Islam dan saya bangga akan itu," tulisnya dalam akun twitter miliknya, seperti dilansir Times of India, Selasa (11/2).

Ia mengatakan, keluarganya mendukung keputusan Raja untuk mengikuti ajaran Islam. Tidak ada kesalahpahaman dengan keluarganya tentang keinginannya tersebut.

Seorang sumber yang dekat dengan Raja mengatakan, ia telah belajar banyak tentang Islam selama hampir satu tahun. Raja juga telah belajar shalat lima waktu selama berbulan-bulan.

Saat ini, dia siap untuk mengucapkan dua kalimat syahadat."Dia sudah siap untuk masuk Islam dan mengubah namanya. Tapi ia belum memutuskan ini," ujar sumber tersebut.

Karena keputusan ini merni keinginan pribadi, keluarga Raja tidak keberatan. Raja adalah seorang penulis lagu dan komposer asal India. Dia adalah anak termuda komposer legendaris India, Ilaiyaraaja. Ia memulai karirnya pada 1996 ketika masih berusia 16 tahun.

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/14/02/11/n0ssfs-komposer-india-ini-masuk-islam

Kisah Rasulullah Menenangkan Gunung yang Berguncang

Gunung Uhud
Gunung, adalah juga makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan, gunung adalah makhluk yang tak pernah durhaka kepada Allah. Dalam Al Qur’an, gunung dikisahkan enggan menerima amanah Allah, sebab ia khawatir tidak sanggup menjalankannya.

Di zaman Rasulullah, pernah ada gunung yang berguncang. Kisah itu diriwayatkan Imam Bukhari dalam shahih-nya.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَعِدَ أُحُدًا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ فَرَجَفَ بِهِمْ فَقَالَ اثْبُتْ أُحُدُ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ نَبِيٌّ وَصِدِّيقٌ وَشَهِيدَانِ
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mendaki gunung Uhud, diikuti oleh Abu Bakar, 'Umar dan 'Utsman. Lalu gunung Uhud itu bergetar, maka beliau bersabda: "Tenanglah wahai Uhud, karena di atasmu sekarang ada Nabi, Asshiddiq (orang yang jujur, maksudnya Abu Bakar) dan dua orang (yang akan mati) syahid". (HR. Bukhari)

Hadits senada juga diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad.

Dalam buku “Percikan Sains dalam Al Qur’an; Menggali Inspirasi Ilmiah” dijelaskan bahwa setelah Rasulullah berbicara kepada gunung itu, maka gempa itu pun berhenti. Subhanallah... inilah mukjizat Nabi.

Dalam hadits yang lain disebutkan isyarat Rasulullah tentang interaksi manusia dan gunung. Sebagai sesama makhluk.

هَذَا جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ
"Ini adalah gunung yang mencintai kami dan kamipun mencintainya." (HR. Bukhari)

Kecintaan kepada gunung bisa dilakukan dengan pendekatan ilmiah dan pendekatan tauhid. Pendekatan ilmiah adalah berinteraksi dengan gunung tanpa melakukan hal-hal yang merusak dan menghancurkannya. Yakni tidak melakukan penebangan liar dan menggunduli hutan yang ada di gunung. Tidak menambang tanpa memperhatikan kesimbangan dan batas-batasnya. Juga dengan menjaga ekosistem yang ada dalam gunung tersebut.

Berinteraksi dengan pendekatan tauhid artinya mendudukkannya sebagai makhluk Allah, tidak menjadikannya sebagai sarana menyekutukan Allah. Tidak menjadikan gunung sebagai tempat maksiat. Jika gunung tunduk kepada Allah dengan caranya sendiri, manusia pun harus tunduk kepada Allah sebagaimana syariat Islam telah diturunkan kepadanya. Amanah yang tidak sanggup dipikul gunung telah diterima oleh manusia, maka manusia harus menjalankan amanah tersebut sebagai hamba dan khalifah Allah Subhanahu wa Ta’ala di muka bumi, yang juga bertugas memakmurkan bumi termasuk gunung di dalamnya. [IK/bersamadakwah]
Sumber : http://www.bersamadakwah.com/2014/02/kisah-rasulullah-menenangkan-gunung.html

Menikah Lantaran Bersin

ilustrasi menikah
Menikah selalu menjadi tema menarik untuk diperbincangkan di berbagai situasi. Karena menikah merupakan satu dari sekian banyak ekspresi cinta dalam beribadah kepada Sang Maha Menciptakan. Di mana semua kisah tentang cinta, akan selalu hangat jika dibahas dari sudut pandang manapun.

Sederhananya, silahkan bertanya kepada bapak atau ibu anda tentang awal mula mereka berkenalan, hingga kemudan memutuskan menikah. Yang ditanya, pasti berbinar sumringah ketika hendak memulai kisahnya. Jangan berhenti, lanjutkan pertanyaan tentang alasan apa yang menguatkan bapak anda sehingga meminang calon istrinya yang kini menjadi ibu bagi anda. Lalu, tanyakan pula kepada ibu, apa yang menjadi alasan bagi ibu sehingga dengan mantap menerima pinangan bapak anda.

Jika bapak atau ibu kita dahulu, tidak terlalu berbelit dan banyak kriteria terhadap calon istrinya, pun dengan ibu anda yang tak muluk-muluk mengharapkan pangeran dambaan jiwanya, maka di zaman kita ini, hal-hal seperti itu sangat jarang dijumpai.

Entah dari mana mulanya, banyak diantara kita yang banyak menerapkan syarat-syarat aneh tak berdalil dalam mematok calon pasangan hidup kita. Misalnya saja, seorang ibu yang mensyaratkan agar anak laki-lakinya mencari istri yang tinggi badannya, minimal sama dengan tinggi badan anaknya yang 170 cm. Ini mau memilih menantu atau pasukan pengibar bendera?

Atau misalnya, seorang pemuda yang selalu menjadikan wajah sebagai satu-satunya acuan dalam meminang. Jika putih, mengkilap dan mirip artis, barulah diterima. Padahal, agamanya tak menjamin keshalihannya. Namun, ketika yang disodorkan adalah wanita sholihah, dengan jilbab terjuntai, paras teduh bekas wudhu dan menunduk ketika memandang, juga sekian banyak kebaikan yang ia miliki, hanya karena wajah yang agak hitam lantaran rajin melakukan jaulah dakwah, serta merta, wanita sholikhah ini ditolak sebelum dilirik.

Mari, sedikit bernostalgia. Kembali ke tahun 90-an. Di mana ketika itu, dakwah mulai menggeliat di negeri kita ini. Di zaman itu, keshalihan menjadi sangat langka namun dibanggakan oleh penganutnya. Sehingga, keshalihan itu terwujud dalam tiap jenak. Baik itu fisik, pakaian, maupun laku. Hal ini dilengkapi dengan munculnya sosok-sosok berani yang bersemangat dalam menyempurnakan Islam sebagai agamanya. Tanpa berbelit, tanpa banyak alasan, dan sedikit syarat kecuali sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah yang mulia.

Ini kisah nyata, sebut saja namanya Andri. Dalam sebuah perjalanan pulang dari Jakarta ke Semarang menggunakan kereta api, dia ditakdirkan berhadapan tempat duduknya dengan seorang akhwat bernama Andriyani (bukan nama sebenarnya).

Menjelang sampai di Kota Lumpia itu, Andri ditakdirkan oleh Allah untuk bersin, “Haccccciiii...” Serta merta, lantaran gemblengan Islam yang selama ini ia peroleh dan semangat untuk mengamalkannya, lelaki muda ini berucap, “Alhamdulillah..” sebagaimana disunnahkan oleh Nabi. Tak disangka, tak dinyana, perempuan di hadapannya itu menyahut, sebagaimana disunnahkan oleh Nabi ketika mendengarkan orang yang bersin, “yarhamukallah.” Keduanya kemudian saling melirik sebelum akhirnya menundukkan pandangannya masing-masing. Dengan rasa yang tak biasa, Andri kembali menjawab doa yang dilantunkan wanita itu, “yahdikumullah.”

Peristiwa pengamalan sunnah ini terjadi begitu saja. Hingga akhirnya, mereka sampai di stasiun pemberhentian terakhir. Entah apa yang mendorong Andri, ia kemudian memberanikan dirinya untuk menanyakan nama bapak dan alamat perempuan yang menjawab bersinnya dengan doa yang disunnahkan nabi itu.

Bukankah ini hal yang aneh? Jika muda-mudi zaman sekarang, yang ditanya pasti nama, nomor hand phone, akun jejeraing sosial, dan seterusnya. Namun, Andri justru menanyakan nama bapak dan alamatnya.

Keduanya pun berpisah. Dengan tetap saling menundukkan pandangan untuk menguasai hatinya masing-masing. Hingga akhirnya, waktu berjalan beberapa bulan kemudian.

Andri membawa orang tuanya untuk mencari alamat orang tua perempuan yang berhasil menarik hatinya itu. Berbekal nama dan alamat yang diberikan, meski dengan sedikit kesulitan, akhirnya ditemukanlah apa yang mereka cari.

Yang ditamui, kaget bukan kepalang. Seperti ketiban durian runtuh. Disilaturahimi keluarga asing yang langsung mengenalkan diri dengan penuh keakraban. Kebahagiaan bertambah ketika orang tua Andri berkata, “Jadi, maksud kedatangan kami adalah untuk menjalin silaturahim.” Yang punya rumah mengangguk bahagia, dengan senym sumringah.

Tamu yang baru dikenal itu, kemudian melanjutkan penyampaian misinya, “Di samping itu, kami hendak melamar anak bapak untuk anak kami,” sembari menunjuk ke arah anaknya, Andri. Tuan rumah, langsung tercekat. Bingung, haru, bercampur bahagia tak terlukis.

Perbincanganpun kemudian berlanjut dengan kisah cinta yang bersemi di kereta api Jakarta-Semarang bersebab bersinnya Andri. Kedua keluarga itu akhirnya terlibat dalam perbincangan seru, penuh kehangatan dan sarat makna. Yang tak kalah mengejutkan, perempuan shalihah berjilbab rapi itu langsung menerima lamaran lelaki yang datang secara kstaria bersama keluarganya itu.

Akhirnya, keduanya mengikat tali suci bernama pernikahan. Hingga saat ini, keduanya bahagia dengan pilihannya. Bahwa mereka memilih menjaga kesucian dengan menikah. Dengan cara seksama, dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Andri, memutuskan memilih Andriyani lantaran ciri keshalihan yang dia temui pada diri wanita itu saat berjumpa di kereta api, pada pertemuan yang hanya sekali itu. Dan Andriyani, menerima lamaran lelaki itu, lantaran ia mengucap hamdalah saat bersin, dan itu satu diantara sekian banyaknya ciri keshalihan. Di samping itu, keberanian diri Andri bersama keluarganya untuk langsung datang ke rumah orang tuanya, merupakan bukti keshalihan lain yang bermakna keseriusan. Andri berani memutuskan untuk memilih demi menjaga kesucian hati, berani melangkah untuk menggapai barokah walimah.

Semoga, Allah hadirkan di zaman kita ini, laki-laki shalih semacam Andri, juga wanita-wanita baik hati semacam Andriyani. Bahkan, lebih baik dari keduanya. Aamiin. []


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com


*http://www.bersamadakwah.com/2014/02/menikah-lantaran-bersin.html

Mimpi Shalat, Bos PT Sritex Memeluk Islam

Muhammad Lukminto (foto Tempo)
Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Telah berpulang ke rahmatullah, pengusaha dan pendiri PT Sri Rejeki Isman Textile (Sritex), Muhammad Lukminto, pada hari Rabu, 5 Februari 2014 di Singapura. Beliau meninggalkan satu istri dan lima anak.

PT Sritex sendiri merupakan salah satu pabrik tekstil terbesar di Asia yang berlokasi di Sukoharjo Jawa Tengah.

Muhammad Lukminto menjadi mualaf pada 1994 lalu. Kisah masuk Islamnya yang unik telah ditulis dalam buku “Saya Memilih Islam” terbitan Gema Insani Pers.

“Sebagian besar karyawan saya beragama Islam,” kata Muhammad Lukminto dalam buku yang disusun oleh Abdul Baqier Zein tersebut, “Sering saya saksikan, di sela-sela waktu istirahat makan siang, mereka tak lupa menunaikan sembahyang (belakangan saya tahu itu disebut shalat). Meskipun waktu itu di pabrik ada tempat khusus untuk shalat (mushala atau masjid), namun mereka tetap mendirikan shalat di beberapa tempat seperti di gudang dan di lorong-lorong pabrik.”

“Sering saya amati, usai shalat wajah mereka tampak begitu cerah. Seakan terpancar dari jiwa mereka yang tenang. Padahal saya tahu pasti, gaji mereka tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kekayaan yang saya miliki. Suatu kali, secara iseng pernah saya tanyakan kepada salah seorang karyawan, mengapa mereka begitu disiplin melaksanakan shalat.”

Jawaban karyawan tersebut membuat Muhammad Lukminto terkejut. "Kami shalat sernata-mata untuk mencari keridhaan Allah, sebab hidup di dunia hanya sementara. Ada kehidupan yang kekal di akhirat kelak, yang harus kami persiapkan sebelum mati," jawab mereka.

Muhammad Lukminto yang tidak pernah berpikir tentang mati, sejauh itu hanya tahu bahwa kematian itu hanyalah akhir dari kehidupan. Dari para karyawannya yang muslim ia mendapatkan informasi, kematian adalah pintu atau jalan antara untuk menuju alam lain yang disebut akhirat, di mana segala perbuatan manusia akan diperhitungkan sesuai baik-buruknya.

“Mengingat itu semua, bulu kuduk saya berdiri. Sungguh, saya amat takut menghadapi kematian dalam keadaan saya yang bergelimang dosa,” tuturnya.

Sejak itu, Muhammad Lukminto jadi pendiam. Ia jadi lebih suka merenung dan berpikir tentang dirinya saya sendiri. Ia juga mulai suka mengikuti siaran Mimbar Agama Islam yang ditayangkan TVRI setiap Kamis malam.

Hingga tibalah malam itu. 10 Januari 1994 bertepatan malam 27 Rajab (Isra Mikraj). Muhammad Lukminto bermalam di vilanya yang di daerah Tawangmangu (Solo). Dalam tidurnya ia bermimpi diberikan sehelai sajadah oleh teman karibnya, lalu disuruh melaksanakan shalat.

"Saya nggak bisa shalat," jawab Muhammad Lukminto. Lalu, sang teman memberi contoh bagaimana caranya shalat.

“Setelah paham, saya pun disuruh mengulangi gerakan shalat yang ia peragakan,” kenangnya, “Lalu, saya pun shalat. Tapi, baru separo jalan, saya pun terjaga. Temyata, itu hanya mimpi.”

Sejak bermimpi seperti itu, Muhammad Lukminto jadi gelisah. Istrinya pun sempat bingung melihat dirinya. Tapi Muhammad Lukminto tak menceritakan mimpi itu kepadanya. Untuk beberapa waktu lamanya, mimpi itu hanya menjadi rahasia pribadi.

“Tapi lama-lama saya tak tahan juga untuk tidak bercerita,” lanjutnya.

“Kebetulan, saya mempunyai tukang pijat pribadi, namanya Pak Edi. la seorang muslim yang taat. Ketika pada suatu malam saya minta dipijat olehnya, saya ceritakanlah mimpi itu kepadanya. Mendengar cerita mimpi saya itu, Pak Edi spontan bergumam, "Subhanallah, insya Allah tak lama lagi Bapak akan masuk Islam," katanya mantap. "Benarkah?" tanya Saya. "Insya Allah," jawabnya pasti.”

Sejak itu, Edi mulai membimbingnya untuk melaksanakan shalat. Muhammad Lukminto pun mengikuti sarannya untuk berkhitan. Tapi itu semua dilakukannya secara sembunyi-sembunyi. Ia dikhitan di Jakarta. Dan ketika masuk bulan suci Ramadhan, Muhammad Lukminto pun ikut melaksanakan ibadah puasa dan mengeluarkan zakat (mal).

“Karena sudah merasa mantap dengan pilihan hati saya itu, Pak Edi menyarankan agar keislaman saya itu harus segera diproklamirkan. Alasannya, agar semua orang tahu bahwa saya sudah muslim. Sarannya itu pun saya terima” tambahnya.

Singkat cerita, pada tanggal 11 Maret 1994 bertepatan dengan peringatan Supersemar, Muhammad Lukminto mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat di hadapan umat Islam dan karyawan PT Sritex, dibimbing oleh pimpinan Pondok Pesantren al-Mukmin, Ngruki, Ustadz H. Moh. Amir, S.H.


Lukminto telah berpulang. Semoga amalnya diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’alaa. Kita, wajib mengambil pelajaran dari kisah berharga ini. Agar kelak, bisa mati dalam keadaan Islam. Allahummaghfirlahu war hamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu. [Pirman]

Sumber : http://www.bersamadakwah.com/2014/02/mimpi-shalat-bos-pt-sritex-memeluk-islam.html

Kisah Nyata, Mushaf Tetap Utuh Meski Masjid Dibom Hingga Hancur Luluh

Diserang dan dibombardir Israel, Gaza memiliki banyak kisah keajaiban. Atau lebih tepatnya, karamah dari Allah. Seperti kisah nyata yang dituturkan oleh Imam Masjid An Nur di kampung Syaikh Ridwan ini, yang juga disaksikan oleh jamaah masjid tersebut.

Kisah nyata ini terjadi pada perang Al Furqan, tepatnya Desember 2008. Saat itu Israel membombardir Gaza selama 22 hari. Bukan hanya manusia yang diincar oleh pesawat-pesawat tempur Zionis, tetapi juga masjid-masjid. Salah satu masjid yang menjadi sasaran rudal Israel itu adalah Masjid An Nur.

Di langit kampung Syaikh Ridwan, suara F-16 Israel laksana sirine kematian yang menakutkan bagi banyak orang. Kecepatan pesawat tempur itu seketika mempercepat denyut jantung warga yang melihatnya. Perasaan dekat dengan kematian menggelayuti jiwa orang tua, wanita, hingga para remaja. Seakan malaikat maut telah tampak di depan mata. Memanggil, dengan seruannya yang menggelegar, membuat bulu kuduk berdiri. Tetapi bagi penduduk Gaza yang kokoh imannya, mereka yang hatinya dekat dengan masjid, tawakal kepada Allah membuat mereka berani menghadapi apapun. Termasuk siap mati kapan saja. Raungan F-16 tidak menambah apapun kecuali keyakinan kepada Allah, bahwa Dia yang menggenggam jiwa manusia. Tidak ada yang sanggup mengambil nyawa kecuali Dia. Secanggih apapun senjata, sehebat apapun mesin perang.

“Blhuouommmmmm.......” terdengar ledakan rudal berkali-kali. Tidak jauh dari tempat tinggal mereka.

Hening sesaat. Kemudian suara kepanikan mulai terdengar diantara warga yang berhamburan memeriksa keadaan, setelah F-16 menghilang. Untuk sementara, entah berapa lama ia kembali ke atas kampung mereka...

Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun. Siapakah yang lebih durjana selain yahudi keturunan kera. Siapakah yang lebih biadab daripada kaum yang menghancurkan rumah-rumah Allah? Rupanya jet tempur Israel itu membombardir Masjid An Nur. Masjid yang menjadi tempat sujud kaum muslimin di kampung Syaikh Ridwan itu kini telah hancur berkeping-keping. Rata dengan tanah. Bahkan, tidak satupun bebatuan yang tersisa, semuanya hancur, atau minimal pecah.

Warga memeriksa masjid kesayangan mereka dengan duka yang menyesakkan dada. O, siapakah yang hatinya tidak teriris melihat tempat sujudnya diratakan dengan tanah. Siapakah yang air matanya tidak meleleh menyaksikan rumah Allah diluluhlantakkan. Bagi seorang mukmin, bahkan jika tubuhnya disayat pedang, itu masih lebih ringan daripada masjidnya dirobohkan. Bagi seorang mukmin, dadanya ditembus peluru masih lebih ringan baginya daripada tempat mengaji anak-anak, tempat shalat jamaah, dan tempat munajatnya dihancurleburkan.

Warga mendapatkan semuanya hancur. Hingga batu-batu penyusun bangunan masjid itu. Namun, betapa terkejutnya mereka. “Allaahu akbar!” takbir pantas dikumandangkan menyaksikan tanda-tanda kebesaranNya. Tumpukan mushaf di masjid itu masih utuh. Bahkan tidak sobek sedikitpun.

“Masjid ini dihancurkan dengan tiga rudal. Semuanya hancur lebur. Tak tersisa satupun batu yang utuh dari bangunannya,” kata Abu Ahid, sang imam masjid, “kecuali tumpukan mushaf Al Qur’anul karim yang masih utuh tanpa ada sobekan sedikitpun. Subhanallah... ini adalah perlindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang luar biasa.”

Yang lebih ajaib, diantara mushaf itu ada yang terbuka, tepat pada halaman di mana di ayat itu Allah menerangkan ujian, kesabaran, dan janji kemenangan.

“Kami mendapatkan sejumlah mushaf dalam kondisi terbuka. Lembaran yang terbuka itu tepat pada ayat-ayat kemenangan dan kesabaran. Diantaranya surat Al Baqarah ayat 155: ‘Dan pasti kami akan menguji kalian dengan suatu ketakutan dan kelaparan...’” tambah Abu Ahid memungkasi kisay nyata ini. [BK/DJG]

Sumber : http://www.bersamadakwah.com/2013/01/kisah-nyata-mushaf-tetap-utuh-meski.html

Kisah Nyata Keajaiban Sedekah, Diganti 1000 Kali Lipat


Kisah nyata ini terjadi di Jawa Tengah. Hari itu, seorang lelaki tengah mengengkol vespanya. Tapi tak kunjung bunyi. “Jangan-jangan bensinnya habis,” pikirnya. Ia pun kemudian memiringkan vespanya. Alhamdulillah... vespa itu bisa distarter.

“Bensin hampir habis. Langsung ke pengajian atau beli bensin dulu ya? Kalau beli bensin kudu muter ke belakang, padahal pengajiannya di depan sana,” demikian kira-kira kata hati lelaki itu. Ke mana arah vespanya? Ia arahkan ke pengajian. “Habis ngaji baru beli bensin.”

Ma naqashat maalu ‘abdin min shadaqah, bal yazdad, bal yazdad, bal yazdad. Tidak akan berkurang harta karena sedekah, bahkan ia akan bertambah, bahkan ia bertambah, bahkan ia bertambah,” kata Sang Kyai di pengajian itu, yang ternyata membahas sedekah.

Setelah menerangkan tentang keutamaan sedekah, Sang Kyai mengajak hadirin untuk bersedekah. Lelaki yang membawa vespa itu ingin bersedekah juga, tetapi uangnya tinggal seribu rupiah. Uan g segitu, di zaman itu, hanya cukup untuk membeli bensin setengah liter.

Syetan mulai membisikkan ketakutan kepada lelaki itu, “Itu uang buat beli bensin. Kalo kamu pakai sedekah, kamu tidak bisa beli bensin. Motormu mogok, kamu mendorong. Malu. Capek.”

Sempat ragu sesaat, namun lelaki itu kemudian menyempurnakan niatnya. “Uang ini sudah terlanjur tercabut, masa dimasukkan lagi? Kalaupun harus mendorong motor, tidak masalah!”

Pengajian selesai. Lelaki itu pun pulang. Di tengah jalan, sekitar 200 meter dari tempat pengajian vespanya berhenti. Bensin benar-benar habis.

“Nah, benar kan. Kalo kamu tadi tidak sedekah, kamu bisa beli bensin dan tidak perlu mendorong motor,” syetan kembali menggoda, kali ini supaya pelaku sedekah menyesali perbuatannya.

Tapi subhanallah, orang ini hebat. “Mungkin emang sudah waktunya ndorong.” Meski demikian, matanya berkaca-kaca, “Enggak enak jadi orang susah, baru sedekah seribu saja sudah dorong motor.”

Baru sepuluh langkah ia mendorong motor, tiba-tiba sebuah mobil kijang berhenti setelah mendahuluinya. Kijang itu kemudian mundur.

“Kenapa, Mas, motornya didorong?” tanya pengemudi Kijang, yang ternyata teman lamanya.
“Bensinnya habis,” jawab lelaki itu.
“Yo wis, minggir saja. Vespanya diparkir. Ayo ikut aku, kita beli bensin.”

Sesampainya di pom bensin, temannya membeli air minum botol. Setelah airnya diminum, botolnya diisi bensin. Satu liter. Subhanallah, sedekah lelaki itu kini dikembalikan Allah dua kali lipat.

“Kamu beruntung ya” kata sang teman kepada lelaki itu, begitu keduanya kembali naik Kijang.
“Untung apaan?”
“Kita menikah di tahun yang sama, tapi sampeyan sudah punya 3 anak, saya belum”
“Saya pikir situ yang untung. Situ punya Kijang, saya Cuma punya vespa”
“Hmm.. mau, anak ditukar Kijang?”
Mereka kan ngobrol banyak, tentang kesusahan masing-masing. Rupanya, sang teman lama itu simpati dengan kondisi si pemilik vespa.

Begitu sampai... “Mas, saya enggak turun ya,” kata pemiliki Kijang. Lalu ia menerogoh kantongnya mengeluarkan sebuah amplop.

“Mas, titip ya, bilang ke istrimu, doakan kami supaya punya anak seperti sampeyan. Jangan dilihat di sini isinya, saya juga belum tahu isinya berapa,” bonus dari perusahaan itu memang belum dibukanya.

Sesampainya di rumah. Betapa terkejutnya lelaki pemilik Vespa itu. Amplop pemberian temannya itu isinya satu juta rupiah. Seribu kali lipat dari sedekah yang baru saja dikeluarkannya.

Sungguh benar firman Allah, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 261).

[Kisah Nyata Keajaiban Sedekah ini disarikan dari Buku “Kun Fayakun 2” karya Ust. Yusuf Mansur]