Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Rahasia Musibah

Kirim Print
sujud1
dakwatuna.com – Kata musibah seringkali diulang dalam Al Qur’an untuk makna peristiwa atau bencana yang menimpa. Dan Allah tegaskan bahwa itu terjadi karena izin-Nya. Ini menunjukkan bahwa di atas segala kekuatan ada kekuatan Allah. Bahwa manusia di alam ini hanya makhluk yang lemah, maka tidak pantas merasa diri berkuasa. Lalu bertindak seenak nafsunya. Tanpa memperhatikan rambu-rambu yang Allah turunkan. Lebih jauh, setiap musibah yang menimpa juga memperlihatkan bahwa alam ini di bawah kendali Allah. Sebab Dialah memang Pemiliknya. Maka tidak pantas manusia di muka bumi ini mengabaikan-Nya.

Namun kenyataan sejarah selalu dipenuhi contoh-contoh manusia yang membangkang. Manusia yang berani melawan Allah. Manusia yang merasa tidak butuh kepada tuntunan-Nya. Sehingga wahyu yang Allah turunkan dianggap tidak penting. Bahkan tidak sedikit manusia yang meragukan Al-Qur’an dan sunnah Rasul-Nya. Akibatnya berbagai perilaku manusia semakin jauh dari apa yang Allah inginkan. Perzinaan di mana-mana dianggap biasa, padahal Allah melarangnya. Harta haram dibanggakan, padahal itu harta yang paling Allah benci. Kedzaliman di mana-mana terjadi, padahal Allah mengharamkan atas diri-Nya kedzaliman dan lain sebaginya.

Ini semua tentu dimurkai oleh Allah. Dan dalam Al-Qur’an, misalnya surah Al-Fajr, Allah menjelaskan bahwa turunnya adzab sebenarnya bukan semata fenomena alam – seperti yang banyak dipahami manusia modern – melainkan ada sebab yang diperbuat oleh manusia sendiri. Itulah kisah adzab yang menimpa kaum Aad, kaum Tsamud dan kaum Fir’un.

Dari sini kita belajar bahwa bencana tetap di luar kemampuan manusia, karena Allah langsung yang mengendalikannya. Dan manusia tidak punya pilihan –apapun upaya yang dilakukan – kecuali hanya tunduk dan patuh kapada Allah sepenuh hati dan semaksimal kemampuan. Jangan ulangi kembali dosa-dosa yang membuat Allah murka. Jauhi segala apa yang Allah haramkan. Ingat Allah mempunyai tujuan dan aturan. Maka sebagai makhluk, manusia harus tahu diri. Jangan menganggap dirinya sama dengan Allah. Lalu merasa independen dan menganggap dirinya bisa bertahan hidup tanpa Allah. Segeralah bertaubat, selamatkan kemanusiaan. Hindari mengagungkan kepentingan peribadi di atas kepentingan umum. Karena seringkalai kedzaliman terjadi karena nafsu mendahulukan kepentingan pribadi. Ingat bahwa semakin banyak kedzaliman pasti akan semakin banyak kerusakan di muka bumi. Dan semakin banyak kerusakan, kemaksiatan dan dosa-dosa pasti akan semakin mempercepat turunnya azab Allah swt.

Renungkan ayat berikut (dalam surah Al-Fajr 6-13) Allah menegaskan setelah menyebutkan tiga contoh kaum yang pernah maju dari segi peradaban dunia yaitu: kaum Aad, Tsamud dan Fir’un: Allah berfirman: “Alladziina thagahaw fil bilaad, faaktsaruu fiihal fasaad, fashaabba alaihim rabbuka sawtha adzaab (mereka telah berbuat kerusakan di negeri mereka, maka menyebarlah kerusakan di negeri tersebut, lalu Allah timpakan adzab yang pedih atas mereka).”

Memang tidak semua musibah minimpa orang-orang yang bejat. Ada juga contoh-contoh orang baik yang mendapatkan musibah. Berdasarkan ini tidak semua musibah yang menimpa harus kita pahami sebagai adzab. Setidaknya ada tiga makna di balik setiap musibah yang menimpa manusia: Pertama, bila itu menimpa sekelompok manusia yang semuanya kafir itu adalah adzab, seperti yang Allah timpakan atas kaum Adz, Tsamud dan Fir’un. Kedua, bila ia menimpa sekelompok manusia yang beriman, sebagiannya patuh sementara sebagian yang lain pendosa, itu adalah peringatan, agar tida dilanjutkan dosa-dosa tersebut. Ketiga, bila itu menimpa sekelompok kaum yang shaleh, itu ujian, untuk mencuci dosa-dosanya serta menaikkan derajatnya di dunia dan di surga. Karenanya Allah berfirman: “Wabasysyirish shaabiriin (dan berilah kabar gembira bagi mereka yang sabar).” Maksudnya bahwa sayarat untuk lolos dari setiap musibah adalah sabar: sabar mentaati Allah, sabar menjauhi kemaksiatan dan sabar menjalani ujian-Nya.

Semoga segala musibah yang menimpa kita semakin menguatkan hakikat kesabaran dalam jiwa. Dan membuat kita semakin dekat kepada Allah secara jujur kapan pun dan di mana pun kita berada, bukan sekedar ingat secara basa-basi di saat musibah menimpa. Ingat, Allah selalu melihat hakikat keimanan kita: “Innarabbaka labil mirshaad.” Wallahu a’lam bishshawab.

Sumber : http://www.dakwatuna.com/2009/rahasia-musibah/

Membangun Pribadi Pantang Menyerah

“Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki ataupun perempuan dalam keadaan beriman, niscaya Kami hidupkan dia dengan kehidupan yang baik dan Kami balasi mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS. An-Nahl: 97).

Allah telah menciptakan alam dan isinya berpasang-pasangan, sehingga melahirkan hukum tarik menarik antara satu dengan yang lainnya. Artinya kondisi alam ini akan selalu dinamis sesuai dengan kehendak-Nya. Begitu juga halnya dengan kehidupan manusia, akan mengalami rotasi (perputaran) antara di bawah di atas; sukses-tidak sukses; bahagia-susah, dll. Begitu juga dengan iman kita. Iman bisa datang dan pergi, naik dan turun.

Ibnu Mas'ud mengatakan, “Sesungguhnya jiwa manusia itu mempunyai saat dimana ia ingin beribadah dan ada saat dimana enggan beribadah. Diantara dua keadaan itulah manusia menjalani kehidupan ini. Dan diantara dua keadaan itu pula nasib manusia ditentukan.

Dalam arti lain, semakin seseorang berada dalam iman yang rendah, maka besar kemungkinan dalam kondisi ini akan mengakhiri hidupnya. Demikian sebaliknya, jika seseorang semakin sering berada pada kondisi iman yang tinggi, maka semakin besar peluangnya memperoleh akhir kehidupan yang baik. Pertanyaannya, bagaimana cara mewujudkan kondisi pribadi yang berujung kebaikan, pribadi yang pantang menyerah tersebut?

Pribadi pantang menyerah (tangguh) adalah tidak lain sebutan bagi pribadi yang tidak merasa lemah terhadap sesuatu yang terjadi dan menimpanya. Pribadinya menganggap sesuatu yang terjadi itu dari segi positifnya. Ia yakin betul bahwa sekenario Allah itu tidak akan meleset sedikit pun.

Pribadi pantang menyerah dan tangguh ini, tidak lain adalah pribadi yang memiliki kemampuan untuk bersyukur apabila ia mendapat sesuatu yang berkaitan dengan kebahagiaan, kesuksesan, medapat rezeki, dll. Sebaliknya, jika ia mendapati sesuatu yang tidak diharapkannya, entah itu berupa kesedihan, kegagalan, mendapat bala bencana, dll., maka ia memiliki ketahanan untuk selalu bersabar. Dan pribadi seperti ini memposisikan setiap kejadian yang menimpanya adalah atas ijin dan kehendak Allah. Ia pasrah dan selalu berusaha untuk bangkit dengan cara mengambil pelajaran dari setiap kejadian tersebut.

Pribadi pantang menyerah ini bukan saja semata-mata dilihat secara fisik. Tetapi lebih-lebih dan yang lebih penting justru adanya sifat positif dalam jiwanya yang begitu tangguh dan kuat.

Seseorang menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Seseorang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, seseorang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan seseorang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada hadist Nabi yang menyebutkan bahwa: “Orang mukmin yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari mukmin yang lemah. Jadi, manusia tangguh dam kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada Allah.

Dalam konteks ini, dapat disebutkan bahwa kesuksesan menurut pandangan Alquran itu memiliki dua syarat pokok. Yakni iman dan ilmu (QS. 58: 11). Kedua hal ini, kalau kita kaji secara rinci, jelas-jelas memiliki pengaruh sangat besar dalam kehidupan manusia.

Dengan kuatnya iman seseorang, maka ia akan sangat berpengaruh terhadap kualitas kehidupan manusia. Menurut M. Ridwan IR Lubis (1985), ada tiga pengaruh iman tersebut, yaitu berupa: kekuatan berpikir (quwatul idraak), kekuatan fisik (quwatul jismi), dan kekuatan ruh (quwatur ruuh).

Sedangkan menurut M. Yunan Nasution (1976), mengungkapkan pengaruh iman terhadap kehidupan manusia itu berupa: iman akan melenyapkan kepercayaan kepada kekuasaan benda; menanamkan semangat berani menghadapi maut; membentuk ketentraman jiwa; dan membentuk kehidupan yang baik.

Untuk mencapai dampak dari kekuatan iman itu, kuncinya terletak pada pribadi kita masing-masing. Dan kalau kita cermati, sebenarnya pembentukan sifat pribadi pantang menyerah dan tangguh ini adalah berawal dari sifat optimisme yang menyelimuti pola pikir orang tersebut.

Menyikapi keadaan seperti saat ini, kita seharusnya tidak menjadi pesimis dan berserah diri. Kita harus optimis dan selalu berusaha untuk mencapai yang terbaik dalam hidup ini. Sehingga untuk menjadikan pribadi pantang menyerah dan tangguh ini, maka dalam diri kita harus tertanam sikap optimis, berpikir positif, dan percaya diri.

Setiap manusia harus memiliki optimisme dalam menjalani kehidupan ini. Dengan sikap optimis, langkah kita akan tegar menghadapi setiap cobaan dan menatap masa depan penuh dengan keyakinan terhadap Sang Pencipta. Karena garis kehidupan setiap manusia sudah ditentukan-Nya. Tugas kita adalah hanya berusaha, berpikir dan berdoa agar sesuai dengan ridho-Nya.

Setelah kita mampu bersikap optimis, lalu pola pikir kita juga harus dibiasakan berpikir secara positif dan percaya diri. Berpikir positif kepada siapa? Pertama, berpikir positif kepada Allah. Setiap kejadian, peristiwa dan fenomena kehidupan ini pasti ada sebab musababnya. Tugas kita, hanya berpikir dan membaca. Ada apa dibalik semua itu? Lalu, kita mengambil pelajaran dari kejadian itu dan selanjutnya mengamalkan yang baiknya dalam perilaku keseharian.

Kedua, berpikir positif terhadap diri sendiri. Setiap manusia, dilahirkan sebagai pribadi yang unik. Karena bagaimanapun wajah dan sifat kita mirip dengan orang lain. Tapi, yang jelas ada saja perbedaan antara keduanya.

Sifat dan pribadi unik itu, harus kita jaga. Itu adalah potensi positif, modal dasar untuk mencapai keleluasaan langkah kita menuju ridho-Nya. Bagaimana orang lain akan menjunjung kita, kalau diri kita sendiri meremehkan dan tidak mengangkatnya.

Selain itu, kita juga harus yakin bahwa kita dilahirkan ke dunia ini sebagai sang juara, the best. Fakta membuktikan, dari berjuta-juta sel sperma yang disemprotkan Bapak kita, tetapi ternyata yang mampu menembus dinding telur Ibu kita dan dibuahi, hanya satu. Itulah kita, sang juara. Hal ini, kalau kita sadari akan menjadi sebuah motivasi luar biasa dalam menjalani hidup ini.

Ketiga, berpikir positif pada orang lain. Orang lain itu, manusia biasa sama dengan kita. Dia mempunyai kesalahan dan kekhilafan. Yang tentu hati nuraninya tidak menghendakinya. Pandanglah, orang lain itu dari sisi positifnya saja dan menerima sisi negatifnya sebagai pelajaran bagi kita.

Belajarlah dari seekor burung Garuda. Ia mengajarkan anaknya untuk terbang dari tempat yang tinggi dan menjatuhkannya. Lalu jatuh, diangkat lagi dan seterusnya sampai ia bisa terbang sendiri. Hati Garuda juga bersih, tidak mendendam. Ia kalau waktunya bermain akar-cakaran. Tapi, kalau diluar itu ia akur, damai kembali.

Keempat, berpikir positif pada waktu. Setiap manusia diberi waktu yang sama, dimana pun dia berada. Sebanyak 24 jam sehari atau 86.400 detik sehari. Waktu itu, ingin kita apakan? Kita gunakan untuk tidur seharian, kerja keras, mengeluh, berdemontrasi, bergunjing, santai, menuntut ilmu, menolong orang lain, melamun, ibadah, dan lainnya. Waktu itu tidak akan protes.

Yang jelas, setiap detik hidup kita akan diminta pertanggung jawabannya kelak, di hadapan Allah SWT. Bagi mereka yang biasa mengisi waktunya dengan amal-amalan saleh dan berada dalam keimanan, maka ia akan memperoleh kehidupan yang lebih baik. Allah berfirman, yang artinya: “Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki ataupun perempuan dalam keadaan beriman, niscaya Kami hidupkan dia dengan kehidupan yang baik dan Kami balasi mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An-Nahl: 97).

Untuk memaksimalkan sikap positif pada diri seseorang, lebih-lebih sebagai pembentuk pribadi yang pantang menyerah, tangguh, 'tahan banting', sabar dan istiqomah pada jalan-Nya. Tentu perlu dibagun pula dengan kebiasaan positif.

Semoga tulisan ini menjadi bahan penilaian terhadap diri kita sendiri, terutama kaitannya dengan keinginan pembentukan pribadi yang pantang menyerah. Dan kita berdoa, semoga Allah memberi kemampuan terhadap kita untuk membangun pribadi yang tangguh dan pantang menyerah sesuai tuntutan-Nya. Amin. Wallahu a'lam.

Sumber : http://www.motivasi-islami.com/artikel/membangun-pribadi-pantang-menyerah/

Menjadi Pribadi Yang Bermanfaat Buat Orang Lain

Apa arti dari semua kesuksesan kalau pada akhirnya kita tidak menjadi pribadi yang bermanfaat buat orang lain. Bukankah kita tahu bahwa kita tidak akan mungkin bisa sukses tanpa bantuan orang lain. Belum ada dalam sejarah, ada orang yang bisa mengukir kesuksesan-Nya dengan kemampuannya sendiri. Hal ini sudah menjadi kodrat manusia yaitu makhluk sosial. Maka dari itu manusai akan selalu membutuhkan satu sama lain untuk bisa bertahana hidup dan mencapai impian dalam hidup.

Sebenarnya apa sih yang kita cari dalam kehidupan ini? Apakah menjadi orang kaya, atau menjadi pejabat, atau ingin menjadi orang berilmu, atau ingin menjadi yang lain. Tentu hal itu terserah kita, karena kitalah yang memutuskan kehidupan kita sendiri. Tapi coba kita renungkan bersama-sama, setelah apa yang kita inginkan tersebut tercapai, kemudian apa lagi yang kita inginkan? Saya yakin keinginan-keinganan akan selalu ada dan tidak akan pernah berhenti sebelum akhir hayat kita. Untuk itu menjadi apa itu tidaklah penting, tapi yang lebih penting dalah apa yang bisa kita lakukan untuk diri kita dan orang lain.

Rasulullah SAW bersabda:
خير الناس أنفعهم للناس
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni. Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah).

Dari hadist di atas jelas bahwa menusia yang paling baik adalah manusia yang plaing banyak memberikan manfaat kepada orang lain. Ada banyak hal  yang bisa kita lakukan untuk menjadi pribadi yang bermanfaat untuk orang lain.

Berbagi ilmu dengan orang lain

Semakin kita mengamalkan ilmu dan membagikan ilmu kit kepada orang lain hal itu tidak akan menjadikna kita bodoh, justru ilmu yang kita miliki akan terus bertambah. Jangn sampai kita menjadi orang yang kikir ilmu, hanya karena kita takut kalah tersaingi atau kita tidak ingin ada orang yang sebanding dengan kita. Sungguh pikiran tersebut adalah pikiran yang salah total.  Ada banyak ilmu yang bisa kita bagikankepapda orang lain, yang penting ilmu itu bukan ilmu sesat yang mengarahkan orang lain berbuat jahat. Berbagi ilmu itu mudah, bisa lewat tulisan, perkataan atau tindakan langsung yang di tujukan kepada orang terkait.

Berbagi nasehat

Setiap orang butuh nasehat, tidak peduli atasan atau bawahan, anaka kecil atau dewasa, kaya atau miskin, tokoh-tokoh agama atau umat biasa dan lain-lain. Nasehat adalah turur kata yang baik, yang mengrahkan diri kita menjadi pribadi yang lebih baik. Ketiak kita melihat oarng lain berbuat hal yang tidak benar, maka nashatilah dia sesuai dengan porsi masing-masing. Kenapa saya bilang harus sesuai porsi, karena menasehati itu bukan menyalahkan dan menghukum, jadi tidak boleh berlebihan, kemudian menasehati juga harus melihat siapa yang di nasehati kalau dia orang yang lebih tua dari kita maka cara yang di gunakan juga harus berbeda.  Saya rasa semua orang suka di nasehati selama nasehat it tidak berlebihan.

Berbagi waktu

Waktu adalah emas, itu yang sering di jadikan alasan kenapa orang sangat memperhatikan masalah waktu dan terkesan tidak mau membuang waktu begitu saja. Tapi perlu kita tahu juga karena waktu, seorang anak sering marasa tidak punya orang tuanya, seorang pacar merasa tidak di perhatikan, seorang adik merasa tidak punya kakak, seorang anak yang kecewa karena di hari pentingnya orang tua tidak bisa hadir. Kenapa hal itu itu terjadi? Karena mereka tidak bisa berbagi waktu. Penting kita pahami  dengan berbagi waktu dengan orang lain tidak akan menjadikan kita kehilangan uang  jutru dengan bisa berbagi waktu dengan orang lain akan menjadikan kita menjadi pribadi yang mau peduli dan memperhatikan orang lain.

Berbagi ide

Ide terkadang adalah bentuk bantuan yang sangat baik bagi orang lain. Ide yang kita berikan bisa jadi memecah kebuntuan orang lain atas masalah yang mereka alami. Coba kita bayangkan betapa senangnya jika ide kita itu bisa bermanfaat dan membantu orang lain.

Beberapa hal di atas hanya sedikit gambaran akan hal-hal yang bisa kita lakukan untuk bisa bermanfaat buat orang lain dan tentunya masih banyak hal lain yang bisa kita lakukan. Tulisan ini bukanlah petunjuk buat anda tapi hanyalah opini  dari saya, harapan saya hanya satu artikel ini bisa bermanfaat

Sumber : http://cafemotivasi.com/menjadi-pribadi-yang-bermanfaat-buat-orang-lain/

MEMBENTUK PRIBADI ISLAM

MEMBENTUK PRIBADI ISLAM
(At-Takwin Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah)

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. 3/Ali Imron 110)

Kalau kita cermati dengan seksama Firman Alloh di atas, kita dikatakan umat terbaik yang dilahirkan sebagai manusia bila kita mempunyai tiga unsur pembentuk kebaikan yang harus melekat pada diri kita dan mempu mengaplikasikannya kedalam kehidupan, yaitu :
1. Mengajak pada yang ma’ruf
2. Mencegah dari yang munkar
3. Beriman kepada Alloh

Tidak berlebihan bila tiga hal ini dikatakan sebagai tonggak peradaban manusia, sebuah fakta yang tidak bisa dipungkiri bahwa tiga hal ini merupakan fondasi dan pilar dalam membangun kehidupan manusia, yang mampu menciptakan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Tiga hal ini pula yang memberikan inspirasi terbentuknya lembaga-lembaga yang mengatur hubungan sesama manusia, hubungan lokal, regional, nasional maupun bilateral & multilateral untuk mencapai tujuan universal. Kalau tiga hal ini terpisah antara satu dengan yang lainnya, maka kemurnian tujuan universal itu pasti akan tercederai dan tidak akan terwujud, yang terjadi justru sebaliknya yakni tujuan dengan kepentingan pribadi, kelompok/golongan tertentu, sehingga mempengaruhi proses terbentuknya menjadi (jamaah/ individu) umat terbaik sebagaimana disebutkan dalam Firman Alloh di atas. 

Untuk menuju kebaikan, individu merupakan komponen terkecil yang memegang peranan penting dalam menentukan perjalanan menuju kebaikan bersama, karenanya pembentukan pribadi muslim (takwin asy-syakhshiyah al-islamiyah) yang baik, merupakan sebuah keniscayaan.

Oleh sebab itu yang menjadi titik tolak dalam gerakan da’wah dimulai dari individu, kemudian keluarga dan selanjutnya adalah masyarakat, dengan kata lain marilah kita mulai perbaikan ini dari diri sendiri sebagai sasaran dan pelaku da’wah, kemudian keluarga kita, selanjutnya kepada saudara, tetangga, teman dekat “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” (QS. 26/Asy-Syu;araa 214) dan diteruskan kepada semua lapisan masyarakat walau dengan cara terang-terangan atau diam-diam. “Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan, kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam” (QS. 71/Nuh 8-9).

Kalau kita semua mampu melakukan gerakan pembentukan pribadi islam (takwin asy-syakhshiyah al-islamiyah) ini dengan cepat dan masiv namun tetap dengan cara bertahap (tadarruj), insya’Alloh da’wah ini akan cepat pula menyebar di permukaan bumi ini, sehingga mampu menepis berbagai isu negatif yang sengaja disebarkan oleh musuh-musuh islam dan orang-orang yang membencinya, apalagi kalau kita semua mampu mengajak satu demi satu dari mereka untuk bergabung ke dalam gerakan da’wah islamiyah, pasti akan mampu memberikan efek positif yang luar biasa terhadap penetrasi dan akselerasi gerakan da’wah itu sendiri. Disamping itu, dia akan mampu menjelaskan dan meluruskan opini serta persepsi publik yang salah terhadap Islam.

Bukankan dalam da’wah kita mengenal program yang disebut “al-akh al wahid” yaitu setiap anggota jama’ah untuk berusaha semaksimal mungkin minimal bisa mengajak satu orang untuk bergabung dalam jama’an dak’wah ini..?. Bukankan mencari pengikut dengan metoda seperti ini merupakan cara yang bijaksana dan selaras dengan tujuan da’wah..?. Untuk itulah, jangan sekali-kali kita menunda-nunda ketika kita mempunyai waktu dan kesempatan untuk melakukan pendekatan da’wah melalui pembentukan (takwiniyah) pribadi islam (asy-syakhshiyah al-islamiyah) walaupun hanya kepada satu orang saja.

Yang perlu diperhatikan oleh seorang da’i, yakni harus menyadari betul bahwa seorang da’i bukan seorang alim/ulama atau ahli fiqh/fuqoha, namun sebuah pribadi yang mempunyai tanggang jawab untuk menyampaikan risalah islam sebatas yang telah diketahuinya untuk membawa insan dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Alloh SWT. Pada masa pembentukan (takwiniyah) seorang da’i hendaknya mampu memberikan contah yang baik (uswah hasanah) untuk dapat menampilkan dihadapan masyarakat gambaran yang nyata tentang peradaban islam yang di dasari dengan mengajak pada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, serta beriman pada Alloh, dengan pemahaman universal dan saling bertoleransi dalam masalah khilafiyah dan furu’ yang akhirnya mampu mengaktualisasikan keselarasan kehidupan dalam pribadinya, dalam rumah tangganya serta mampu mengimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasululloh saw dalam Khilawah Madinah..

Memberikan contoh yang baik memang bukan perkara yang mudah, bahkan inilah salah satu tugas berat bagi seorang da’i, tidak sedikit orang yang mampu memukau banyak orang dengan untaian kata-katanya, namun tidak selaras antara ucapan dan perbuatannya, sehingga membuat orang lain tidak respek terhadapnya, banyak orang yang mampu menguraikan dengan detail tentang hidup sederhana namun kehidupannya sangat jauh dari kesederhanaan, banyak sekali orang yang mampu menjabarkan sistem tata nilai kehidupan dan bermasyarakat dalam islam, namun dalam kesehariannya mereka tidak mampu berbuat dan bermu’amalah dengan baik walaupun dengan tetangga dekatnya, bahkan dengan saudaranya, apalagi dengan jama’ah da’wah yang secara geografis jauh darinya. Itulah manusia walaupun diciptakan dalam bentuk yang terbaik diantara makluk-Nya, namun tetap tidak sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milik Alloh SWT. Sekali lagi mari kita memulai dari diri sendiri untuk membentuk pribadi islam (takwin asy-syakhshiyah al-islamiyah) yang kafah, sehingga mampu mempengaruhi dan mewarnai keluarga, saudara, tetangga dan masyarakat, yang akhirnya insya’Alloh akan dapat membawa kebaikan pada nusa-bangsa, negara dan agama. Semoga. Aamiin.

Sumber : http://infotechpersada.com/sakinah/?p=1604